Wisata Religi

Senggarang dan Warisan Tionghoa di Seberang Tanjungpinang

Kampung pelantar Senggarang, klenteng yang dililit akar beringin, dan Vihara Avalokitesvara Graha memperlihatkan panjangnya jejak komunitas Tionghoa di Bintan.

Kampung panggung di Senggarang
Foto: Anton Leddin, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons

Dari pelabuhan Tanjungpinang, perahu kayu kecil yang disebut pompong menyeberang ke Senggarang hanya dalam waktu sekitar lima belas menit. Kampung di seberang teluk ini dikenal sebagai salah satu permukiman awal masyarakat Tionghoa di Bintan, dengan mayoritas warga keturunan Teochew. Rumah-rumah kayunya berdiri di atas tiang di atas air dan dihubungkan oleh jalan papan yang disebut pelantar.

Klenteng pohon beringin

Daya tarik utama Senggarang adalah klenteng yang hampir seluruhnya dibalut akar pohon beringin raksasa. Bangunan ini awalnya adalah rumah seorang kapitan Tionghoa dan diperkirakan berdiri sekitar tahun 1811. Setelah ditinggalkan pemiliknya, warga setempat menjadikannya tempat ibadah. Seiring waktu, akar beringin tumbuh merambati tiang, dinding, dan atap hingga menyatu dengan bangunan. Di dalamnya terdapat altar yang tetap digunakan untuk bersembahyang. Wisatawan asing sering menyebutnya Banyan Tree Temple.

Tidak jauh dari sana terdapat kompleks klenteng lain di tepi laut, sehingga jalan-jalan singkat di Senggarang bisa diisi dengan mengunjungi beberapa tempat ibadah sekaligus.

Kampung di atas air

Berjalan di pelantar memberi gambaran kehidupan sehari-hari: perahu nelayan, kedai kopi, dan altar kecil di depan rumah. Ingatlah bahwa ini adalah permukiman warga, bukan museum. Mintalah izin sebelum memotret orang atau masuk ke area rumah.

Vihara Avalokitesvara Graha

Warisan Tionghoa di Bintan juga tampak di daratan. Vihara Avalokitesvara Graha terletak di kawasan Batu 14, di pinggir jalan dari Tanjungpinang ke arah Tanjung Uban. Vihara ini diresmikan pada Juni 2009 oleh Menteri Agama saat itu. Di dalam aula utamanya duduk patung Dewi Kwan Im setinggi 16,8 meter yang berlapis emas; Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai patung Kwan Im duduk terbesar di dalam ruangan. Di kompleks ini juga dibangun sebuah pagoda bertingkat sembilan.

Tips berkunjung

  • Berpakaian sopan dan jaga suara di dalam klenteng dan vihara.
  • Jangan menyentuh sesajen atau hio yang sedang menyala.
  • Pelantar bisa licin setelah hujan; gunakan alas kaki yang nyaman.