Raja Ali Haji dan Gurindam Dua Belas
Pujangga asal Riau ini menulis Gurindam Dua Belas dan berjasa besar bagi bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia. Makamnya dapat diziarahi di Pulau Penyengat.
Siapa pun yang berkunjung ke Pulau Penyengat pasti akan mendengar nama Raja Ali Haji. Ulama dan pujangga abad ke-19 ini termasuk tokoh terpenting dalam sastra Melayu, dan banyak orang Indonesia menghormatinya sebagai Bapak Bahasa Indonesia.
Siapa Raja Ali Haji?
Raja Ali Haji lahir pada 1808; sumber-sumber menyebut Pulau Penyengat atau Selangor sebagai tempat kelahirannya. Ia berasal dari keluarga bangsawan keturunan Bugis-Melayu. Kakeknya adalah Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Riau keempat yang juga bergelar Pahlawan Nasional. Semasa muda Raja Ali Haji menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan kemudian ikut menjalankan pemerintahan di Kesultanan Riau-Lingga. Ia wafat di Penyengat sekitar 1872 atau 1873; sumber-sumber berbeda pendapat soal tahunnya.
Gurindam Dua Belas
Karyanya yang paling terkenal adalah Gurindam Dua Belas, yang selesai ditulis pada 1847. Gurindam adalah bentuk puisi Melayu berupa bait dua baris yang berima: baris pertama berisi syarat, baris kedua akibatnya. Dua belas pasalnya berisi nasihat tentang ibadah, budi pekerti, cara bertutur, kehidupan keluarga, dan kepemimpinan yang adil. Hingga kini gurindam ini masih dibacakan dalam lomba dan festival budaya di Tanjung Pinang.
Perintis bahasa
Raja Ali Haji juga menulis tentang bahasa Melayu itu sendiri. Di antara karyanya ada Bustan al-Katibin (1850), kitab tata bahasa dan pedoman menulis, serta Kitab Pengetahuan Bahasa, sebuah kamus bahasa Melayu. Ia pun menulis kitab sejarah Tuhfat al-Nafis. Bahasa Melayu Riau yang ia bina menjadi dasar bahasa yang kelak diangkat sebagai Bahasa Indonesia. Pada 2004 pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Berziarah ke makamnya
Raja Ali Haji dimakamkan di Pulau Penyengat, di kompleks makam Engku Putri Hamidah. Makamnya berada di bangunan terbuka tanpa dinding di bagian luar bangunan utama. Penyengat dapat dicapai dengan pompong dari Tanjung Pinang dalam waktu sekitar 15–20 menit. Kenakan pakaian sopan dan jagalah ketenangan, karena makam ini menjadi tempat ziarah bagi banyak pengunjung.





