Sejarah Bintan: Dari Kerajaan Kuno hingga Provinsi Kepulauan Riau
Bintan pernah menjadi tempat pelarian Sultan Melaka, pusat Kerajaan Johor-Riau dan bagian penting Kesultanan Riau-Lingga. Inilah perjalanan panjang pulau ini hingga menjadi bagian Provinsi Kepulauan Riau.
Kini Bintan dikenal sebagai pulau resor yang tenang, tetapi selama berabad-abad pulau ini berada di jantung dunia Melayu. Kisahnya membentang dari raja-raja legendaris, perjanjian kolonial, hingga lahirnya sebuah provinsi baru di Indonesia.
Kerajaan awal dan legenda
Tradisi Melayu mengenang sebuah kerajaan Bintan kuno yang dipimpin seorang ratu. Menurut legenda, pangeran dari Palembang bernama Sri Tri Buana (Sang Nila Utama) datang ke Bintan pada akhir abad ke-13, mendapat dukungan sang ratu, lalu berlayar dan mendirikan Singapura. Pada masa pengaruh Sriwijaya, perairan Bintan menjadi persinggahan penting di jalur laut antara Tiongkok dan Samudra Hindia.
Pelarian Sultan Melaka
Ketika Portugis merebut Melaka pada 1511, Sultan Mahmud Syah menyingkir ke Pahang, kemudian ke Bintan. Dari sinilah ia beberapa kali menyerang Melaka yang dikuasai Portugis. Pada 1526 Portugis menghancurkan pusat pemerintahannya di Bintan, dan sultan mundur ke Kampar di Sumatra hingga wafat pada 1528. Keturunannya kemudian mendirikan Kesultanan Johor yang tetap erat dengan Kepulauan Riau.
Johor-Riau dan Hulu Riau
Pada 1673 didirikan permukiman kerajaan baru di tepi Sungai Carang, kawasan yang kini disebut Hulu Riau dekat Tanjung Pinang. Selama lebih dari seabad tempat ini menjadi salah satu pusat Kerajaan Johor-Riau dan tumbuh menjadi bandar dagang yang ramai. Pada abad ke-18 para bangsawan Bugis memegang jabatan Yang Dipertuan Muda yang sangat berpengaruh. Pada 1787 pusat kerajaan dipindahkan ke Lingga.
Riau-Lingga dan Belanda
Traktat London 1824 membelah wilayah lama itu: Semenanjung Melayu dan Singapura masuk pengaruh Inggris, sedangkan Kepulauan Riau di bawah Belanda. Kesultanan Riau-Lingga berpusat di Daik, Lingga, sementara Yang Dipertuan Muda bersemayam di Pulau Penyengat, yang berkembang menjadi pusat ilmu dan sastra Melayu. Pada 11 Februari 1911 Belanda memakzulkan Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, yang kemudian hidup di pengasingan di Singapura. Sejak 1913 Belanda memerintah wilayah ini secara langsung.
Menjadi provinsi sendiri
Setelah Indonesia merdeka, kepulauan ini termasuk Provinsi Riau. Melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002, Kepulauan Riau resmi menjadi provinsi tersendiri dengan ibu kota Tanjung Pinang di Pulau Bintan. Cara termudah merasakan jejak sejarah ini adalah dengan menyeberang ke Pulau Penyengat.





